Fish

Jumat, 07 Desember 2012

Menggali Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Sejarah Mengenai Perjuangan Para Pahlawan Pada Masa Penjajahan Belanda.

Oleh: Angga Yudistira Permana S.Pd


Dewasa ini bangsa Indonesia sedang mengalami distorsi moralitas yang diakibatkan oleh “invasi” budaya barat. Sebagian besar masyarakat Indonesia baik tua maupun muda telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa timur yang ditandai dengan ketidaktahuan mereka tentang adat istiadat bangsanya sendiri. Mereka lebih tertarik untuk mempelajari hal-hal yang berbau budaya pop dibandingkan dengan mempelajari budayanya sendiri. Selain itu, rasa cinta mereka terhadap tanah air Indonesia semakin lama semakin meredup karena anggapan mempelajari budaya sendiri itu susah. Mereka seakan-akan kehilangan panutan yang berasal dari bangsanya sendiri. Bahkan tak sedikit bocah SD yang lebih mengenal tokoh Spiderman sebagai pahlawan dibandingkan dengan Pangeran Diponegoro. Padahal Spiderman merupakan tokoh fiksi hasil rekayasa seniman barat, sedangkan Pangeran Diponegoro nyata keberadaannya. Hal ini berdampak pada semangat nasionalisme mereka yang semakin pudar ketika menginjak usia dewasa.
Masalah yang penulis kemukakan diatas hendaknya dapat dijawab oleh para praktisi pendidikan, khususnya yang mengajar di sekolah dasar. Pembelajaran sejarah atau IPS Terpadu di sekolah dasar memiliki peran yang penting untuk ikut serta dalam menyiapkan peserta didik yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi serta kepribadian yang luhur di masa yang akan datang. Tentu saja semangat nasionalisme ini harus selalu dibarengi dengan kepribadian yang mencirikan bangsa Indonesia secara keseluruhan karena ditakutkan semangat nasionalisme ini akan berkembang menjadi ultranasionalisme yang bertentangan dengan prinsip-prinsip di dalam Pancasila dan UUD 1945. 
Guru di sekolah dasar memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kepribadian peserta didik karena sekolah dasar secara umum merupakan fase awal dari jenjang pendidikan di Indonesia. Dengan kata lain, sekolah dasar berperan sebagai fondasi awal bagi pembentukan karakter bangsa. Untuk membentuk karakter tersebut, tentu guru harus mengetahui bagaimana ciri dari kepribadian atau karakter bangsa Indonesia secara umum. Disinilah peran pembelajaran sejarah diperlukan, karena hanya melalui pembelajaran sejarah peserta didik dapat bercermin dari kearifan dan kebijaksanaan tokoh-tokoh yang berperan dalam menulis tinta sejarah bangsa Indonesia. Pembelarajaran sejarah disini tidak hanya berkutat dengan fakta-fakta sejarah, tetapi juga murid harus bisa memahami mengapa fakta sejarah tersebut ada.
Pada dasarnya manusia seringkali lupa ketika ia menghapal sesuatu, tetapi apabila ada suatu peristiwa yang berkesan, ia akan selalu mengingatnya. Tugas seorang guru di sekolah dasar dalam hal ini adalah untuk membuat peserta didik terkesan ketika ia menyampaikan materi pembelajaran sejarah. Tentu saja hal ini tidak cukup dengan gaya mengajar ceramah yang cenderung menceritakan kembali peristiwa sejarah, karena hal ini hanya membuat murid bisa mendengar tanpa bisa mengaitkannya dengan kondisi saat ini. Dengan pembelajaran seperti ini bukan tidak mungkin banyak peserta didik yang lupa akan konten materi yang telah disampaikan oleh guru di kelas. Jika sudah begitu, bagaimana mungkin kepribadian luhur yang diharapkan dapat terbentuk?
Menurut Supriatna (2007: 5) dalam pembelajaran sejarah, kajian mengenai sejarah tertentu harus relevan dengan apa yang berlangsung pada persoalan di masa kini. Dengan bahasa yang sama, ketika membicarakan mengenai Perang Diponegoro harus sampai pada latar belakang kehidupan masyarakat Jawa sebelum terjadinya perang. Dengan hal ini, peserta didik dapat mengetahui persoalan-persoalan yang menjadi latar belakang Pangeran Diponegoro menyatakan perang terhadap pemerintah kolonial Belanda. Penulis melihat dan mengalami bagaimana guru-guru di sekolah dasar hanya mengajarkan sebatas fakta-fakta mengenai Perang Diponegoro, yang seyogyanya tertulis secara jelas di dalam buku teks atau lks. Selain itu, semangat persatuan dan kesatuan yang dipupuk melalui kepercayaan terhadap common enemy, yaitu pemerintah kolonial Belanda, penulis rasa sudah tidak relevan karena saat ini kita hidup di masa damai. Seharusnya, pada masa-masa seperti inilah peran guru di sekolah dasar dititikberatkan pada penggalian nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat di dalam diri seorang Pangeran Diponegoro agar kedepannya bisa dijadikan panutan atau tokoh favorit peserta didik.   
  Perang Diponegoro menurut Ricklefs (2007: 254) terjadi karena Pangeran Diponegoro tidak suka dengan gaya hidup kraton yang tidak lagi mengindahkan aturan-aturan adat dan agama. Kebiasaan keluarga kraton yang selalu berpesta dan minum-minuman keras memaksa Pangeran Diponegoro untuk keluar dari istana dan memilih menjalani kehidupan di luar istana. Perang benar-benar terjadi setelah pihak keraton dengan bantuan pemerintah kolonial berencana untuk membangun jalan raya baru di daerah Tegalrejo. Pangeran Diponegoro tidak menyukai rencana tersebut karena tanah yang akan dijadikan sebagai lahan jalan merupakan tanah kuburan leluhur yang amat ia hormati. Hal inilah yang kemudian memicu terjadinya Perang Diponegoro dari tahun 1825-1830.
Kebiasaan buruk yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda ke dalam keratonlah yang memaksa Pangeran Diponegoro untuk keluar dari istana, bahkan melawan ketika Belanda berupaya merusak tanah leluhurnya. Disinilah letak kearifan local yang dapat digali dan diterapkan pada peserta didik. Peserta didik tidak hanya memahami nasionalisme saja, tetapi juga memahami bagaimana bentuk nasionalisme Indonesia itu sendiri. Jika dikaitkan dengan kondisi jaman sekarang, peserta didik dapat meniru langkah Diponegoro untuk tidak ikut-ikutan tergerus invasi budaya barat yang merusak akhlak dan moralnya. Peserta didik bisa mengambil contoh untuk menghindari dan menjauhi segala bentuk budaya barat yang merusak. Selain itu, perlawanan Pangeran Diponegoro karena tanah leluhurnya akan dirusak oleh pemerintah kolonial Belanda juga dapat dijadikan contoh bahwa ketika kekayaan milik bangsa Indonesia akan direbut oleh bangsa lain, mereka harus melawan. Hal inilah yang dapat dijadikan sebagai fondasi dasar bagi mereka karena merekalah yang di masa depan akan menjadi pemimpin di negeri ini. Jika siswa di sekolah dasar tidak memiliki mental yang kuat seperti ini, maka ketika giliran mereka memimpin, kebijakan yang akan mereka buat akan seperti pemimpin di masa sekarang, tidak pernah bisa bersikap tegas terhadap upaya pencurian kekayaan alam Indonesia yang dilakukan oleh bangsa asing.
Materi Perang Diponegoro hanyalah salah satu contoh yang bisa digali nilai-nilai kearifan lokalnya. Sesungguhnya di dalam setiap materi pembelajaran sejarah itu banyak sekali nilai-nilai kearifan lokal yang bisa digali, khususnya mengenai perjuangan untuk merebut kemerdekaan pada masa kolonial Belanda. Dengan penggalian nilai-nilai kearifan local yang ada didalam diri para pahlawan, terutama yang berjuang di daerah tempat peserta didik tinggal dapat membuat mereka terkesan, karena tokoh yang dipelajari oleh mereka perannya begitu penting bagi daerah tempat mereka tinggal, sehingga mereka bisa mencari dan menggali hal-hal menarik yang bisa dijadikan contoh sebagai pegangan hidup mereka.

Sumber bacaan
Ricklefs, MC. 2007. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.
Supriatna, N. 2007. Konstruksi Pembelajaran Kritis. Bandung: Historia Utama Press. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar